Angkanya bikin geleng-geleng. Kantor Anggaran Kongres AS (CBO) yang nonpartisan baru rilis laporan: perang Amerika versus Iran sudah menelan sekitar US$38 miliar atau kira-kira Rp670 triliun sampai 1 Agustus 2026. Itu baru biaya langsung Pentagon, belum termasuk kerusakan pangkalan dan bunga utang.
Yang paling boros bukan gaji tentara, tapi amunisi. CBO hitung penggantian peluru kendali dan interceptor saja hampir US$21,7 miliar. Jam terbang pesawat nambah hampir US$11 miliar. Bahan bakar juga naik karena Selat Hormuz kacau.
Kalau konflik lanjut, tagihannya masih nambah US$2–3 miliar per bulan. Setara puluhan triliun rupiah. Stok interceptor pertahanan udara AS bahkan diperkirakan sudah kepakai setengah sampai dua pertiga. Isi ulang gudang? Minimal lima tahun.
Laporan ini nyaris sama dengan estimasi Menhan Pete Hegseth di Juli, yang sempat sebut US$37,5 miliar. Inspektur Jenderal Pentagon sebelumnya bahkan catat US$33,4 miliar sampai akhir Juni. Jadi trennya jelas: semakin lama, semakin mahal.
Efeknya nggak cuma di Washington. CBO ramal inflasi AS bisa naik 0,5 poin persentase di awal 2027 karena minyak dan gas terganggu. Harga energi dunia ikut goyang, termasuk yang kita rasain di pom bensin.
Perang lima-enam bulan ini udah lebih mahal dari anggaran banyak negara. Dan meterannya masih jalan.
Sumber: Reuters | Iran war cost hits $38 billion, forecast to rise $3 billion a month, CBO says | Jacob Bogage | 15 September 2026 | *ilustrasi AI

Leave a comment