Kediri – Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri saat ini masih mematangkan wacana kebijakan lima hari sekolah. Berbagai masukan serta aspirasi masyarakat dikumpulkan secara intensif untuk bahan pertimbangan sebelum kebijakan ini diputuskan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin menyebutkan bahwa ada tiga skenario yang disiapkan. Mulai dari opsi lima hari sekolah tidak jadi diterapkan, langsung diberlakukan, atau dicoba melalui tahapan uji coba terlebih dahulu.
“Nanti kami akan mengajukan alternatif-alternatif. Misalnya dari kajian, dari pendapat publik itu bisa diajukan alternatif pertama misalnya kegiatan lima hari sekolah tidak jadi, atau jadi langsung dilaksanakan, atau melalui uji coba,” jelasnya.
Muhsin menambahkan, ketiga opsi tersebut dirumuskan berdasarkan hasil riset serta masukan publik yang sudah dikumpulkan oleh pihaknya. Survei juga telah dilakukan dengan menggandeng para siswa beserta orang tua mereka.
“Jadi ada tiga alternatif itu yang nanti akan kita sampaikan. Dari kajian dan pendapat publik kemarin kita lampirkan. Termasuk survei kepada anak-anak, ke orang tua, hasilnya juga sudah. Nanti kita laporkan ke pimpinan,” terangnya.
Apabila opsi uji coba yang nantinya dipilih, Muhsin memastikan bahwa penerapannya tidak bakal langsung dilakukan secara serentak di semua sekolah. Kesiapan dari masing-masing satuan pendidikan bakal menjadi salah satu faktor penentu.
Nantinya, sekolah yang dianggap sudah siap dapat ditunjuk sebagai tempat pelaksanaan uji coba. Salah satu hal yang turut dipersiapkan adalah fasilitas layanan pendidikan agama, termasuk kegiatan mengaji bagi para siswa.
“Kita harus perhitungkan misalnya nanti akan ada uji coba. Kita juga akan siapkan guru-guru ngaji di sekolah, sehingga anak-anak yang lima hari sekolah itu benar-benar yang sudah ngaji tetap mendapat layanan ngaji, yang belum ngaji di masyarakat nanti malah ngaji,” terangnya.
Meski begitu, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri belum menetapkan tenggat waktu kapan uji coba lima hari sekolah tersebut akan dimulai.
“Enggak ada, enggak ada target. Udah ini pokoknya. Ya, kita mengalir saja ya. Sambil mencari solusi, perbaikan-perbaikan, persiapan sesuai dengan keinginan masyarakat,” jelasnya.
Kegiatan Mengaji Jadi Perhatian
Salah satu pokok pembahasan yang menjadi sorotan dalam rencana lima hari sekolah ini adalah kelangsungan aktivitas mengaji bagi para pelajar.
Kekhawatiran tersebut sebelumnya sempat disuarakan oleh sejumlah organisasi kemasyarakatan. Durasi sekolah yang berlangsung hingga sore hari dikhawatirkan membuat anak-anak merasa kehabisan tenaga sehingga mengurangi atau bahkan berhenti mengikuti kegiatan mengaji di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Ormas itu, kemarin juga menyampaikan pendapat ya. Pendapatnya baik, mengkhawatirkan bahwa anak-anak yang selama ini ngaji itu nanti ketika sekolahnya sampai sore, kecapekan dan enggak ngaji,” katanya.
Muhsin menuturkan, pihaknya telah melakukan pendataan terhadap para pelajar yang aktif mengikuti kegiatan mengaji, termasuk perihal waktu pelaksanaannya.
Berdasarkan data sementara, jadwal mengaji anak-anak ternyata bervariasi. Sebagian besar siswa tingkat SMP mengikuti kegiatan mengaji setelah salat Magrib. Sementara itu, siswa tingkat SD memiliki rentang waktu yang lebih beragam, mulai sekitar pukul 15.00, 16.00, hingga 17.00 sore.
Variasi waktu tersebut ke depannya bakal dianalisis secara mendalam guna mengetahui seberapa besar pengaruh perubahan jam belajar sekolah terhadap rutinitas mengaji siswa.
“Kan untuk anak-anak yang kelas rendah kan yang ngajinya biasanya siang. Nah, ini nanti akan kita analisis berpengaruh enggak jam sekolah mereka dengan pelaksanaan ngaji dan itu nanti akan kita komunikasikan dengan semua pemangku kepentingan ya, agar semuanya berjalan,” jelasnya.
Guna memastikan para siswa tetap memperoleh hak layanan pendidikan agama, pihak Dinas Pendidikan juga menyiapkan opsi menghadirkan tenaga pengajar ngaji langsung di sekolah.
Melalui skema ini, murid-murid yang selama ini sudah aktif mengaji di tengah masyarakat bisa tetap melanjutkan kegiatan keagamaan mereka. Di sisi lain, siswa yang belum sempat mengaji juga bisa mendapatkan layanan serupa di lingkungan sekolah.
“Kita akan menyiapkan opsi sekolah-sekolah menyediakan guru ngaji ya. Monggo nanti guru ngaji yang baru atau yang sudah memperoleh bisyaroh, kita sedang komunikasikan ini. Jadi kan enggak mungkin guru agama itu mencukupi untuk itu,” terang Muhsin.
Lebih lanjut, Dinas Pendidikan juga telah mengumpulkan data mengenai jumlah pelajar yang sudah maupun belum mengikuti kegiatan mengaji. Informasi tersebut bakal dijadikan fondasi utama untuk merancang pola layanan yang tepat jika nantinya lima hari sekolah resmi diberlakukan.
Tak hanya itu, program pembiasaan nilai-nilai keagamaan di sekolah pun akan terus digencarkan lewat konsep sekolah yang berbudaya religi.
“Ini kita upayakan terus nanti menjadi bagian dari layanan pendidikan untuk anak-anak, berapa pun hari sekolahnya,” ujarnya.
Muhsin menegaskan bahwa layanan pendidikan agama di lingkungan sekolah nantinya bakal diberikan kepada seluruh anak tanpa membeda-bedakan latar belakang agama.
“Jadi, ini ngaji, belajar agama ini tidak diskriminasi ya. Berarti kalau di sekolah itu ada yang beragama selain Islam dengan kegiatan ngaji-ngaji apa, belajar ya masing-masing harus mendapatkan pelayanan,” tegasnya.
Segala rencana ini masih sebatas dalam koridor pengkajian serta komunikasi bersama berbagai pihak terkait. Keputusan final mengenai jadi atau tidaknya penerapan lima hari sekolah nantinya bakal diumumkan langsung oleh pimpinan daerah.
“Nanti biar diumumkan Mas Bup (sapan akrab Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana,” pungkas Muhsin. (AB)

Leave a comment