Bocah Down Syndrome di Surabaya Wafat Tak Wajar, Sang Ayah Duga Ada Bullying

Published on

in

Surabaya – Seorang anak penyandang Down Syndrome berinisial Z (10), yang tinggal di Kecamatan Rungkut, Surabaya, wafat dalam keadaan yang tidak wajar pada hari Sabtu (12/9/2026). Sang ayah, SAW (53), menduga buah hatinya itu merupakan korban perundungan yang diduga melibatkan dua anak tetangga mereka.

Peristiwa ini telah dilaporkan oleh SAW kepada pihak Polrestabes Surabaya. Laporan tersebut terdaftar dengan nomor LP/B/1843/IX/2026/SPKT/Polrestabes Surabaya/Polda Jawa Timur tertanggal 12 September 2026.

Menurut cerita SAW, kejadian bermula ketika anaknya sedang bermain seorang diri menggunakan kursi roda di teras rumah sekira pukul 08.00 WIB. Pada waktu itu, pagar rumah dalam kondisi tertutup.

SAW menyatakan bahwa dirinya sedang sakit usai menjalani operasi pengangkatan batu ginjal. Ia meminum obat hingga akhirnya tertidur, sementara istrinya yang bernama NF pergi ke pasar untuk berjualan sari kedelai.

Kira-kira pukul 09.00 WIB, NF pulang dan mendapati anaknya sudah tergeletak di teras rumah dengan kondisi tidak sadarkan diri. Muka korban tampak membiru, disertai temuan bekas jeratan tali sepatu pada bagian leher serta sisa putih mirip sabun colek di sekitar mulut.

“Saya kaget mendengar istri berteriak anaknya sudah biru. Saya keluar, anak saya sudah dipangku istri. Saya lihat ada jeratan tali sepatu di lehernya,” ujar SAW, Minggu (18/10/2026).

Korban kemudian dilarikan ke RSUD Eka Candrarini sekitar pukul 09.20 WIB. Akan tetapi, pada pukul 09.45 WIB, korban dinyatakan telah meninggal dunia.

Demi mencari tahu penyebab kejadian tersebut, SAW meminta rekaman kamera pengawas atau CCTV kepada pengurus RT setempat. Berdasarkan rekaman CCTV yang ada di gang, terlihat dua anak tetangga masuk ke area rumah korban pada pukul 08.15 WIB dan baru keluar pukul 08.32 WIB.

SAW menduga kedua anak tersebut mempunyai kaitan dengan insiden yang merenggut nyawa anaknya. Walau demikian, dugaan ini masih harus dibuktikan lewat langkah penyidikan dari pihak kepolisian.

Oleh karena kematian buah hatinya dianggap tidak wajar, SAW menyebut pihak rumah sakit meminta keluarga supaya melapor ke Polrestabes Surabaya. Jenazah korban lantas dibawa menuju RS Bhayangkara Surabaya guna menjalani autopsi sebelum akhirnya dimakamkan pada malam hari.

SAW turut membeberkan bahwa dugaan perundungan yang dialami anaknya bukanlah yang pertama kali terjadi. Sekitar satu pekan sebelum kejadian, ia sempat mendapati leher anaknya dikalungi tali tampar dengan panjang kurang lebih dua meter. Bahkan, sebulan sebelumnya, wajah serta tubuh korban juga pernah dilempari pasir.

“Anak saya tidak bisa bicara, tidak bisa berdiri, dan tidak bisa melihat. Dia punya banyak penyakit, jantung bocor, katarak, dan Down Syndrome,” tuturnya dengan suara bergetar.

SAW menaruh harapan besar agar pihak kepolisian dapat mengusut tuntas kematian sang anak. Ia pun meminta agar dua anak yang diduga terlibat bisa memperoleh pembinaan dari negara, termasuk pendidikan moral dan agama, agar mampu memahami perbuatan yang baik serta buruk.

“Saya ingin kedua anak ini dibina sampai dewasa, sampai bisa berpikir mana yang baik dan buruk. Diberi pendidikan agama dan moral sebelum kembali ke masyarakat,” tegasnya.

Di sisi lain, Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Surabaya AKBP Melatisari mengonfirmasi bahwa perkara tersebut saat ini sedang ditangani oleh pihak kepolisian.

“Kita tangani, proses penyidikan,” ujarnya.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada keterangan lebih lanjut dari pihak berwajib perihal penetapan tersangka ataupun hasil akhir penyidikan kasus itu.

Seorang anak penyandang Down Syndrome berinisial Z (10), warga Kecamatan Rungkut, Surabaya, meninggal dunia dalam kondisi tidak wajar. (AB)

Leave a Reply